Jumat, 06 Desember 2013

Ditemukannya Bangkai U-168 Di Indonesia




Kapal selam atau U-Boat milik tentara Jerman era pemimpin NAZI, Adolf Hitler, ditemukan tenggelam di perairan Karimunjawa. Kapal ini karam setelah dihantam torpedo milik Belanda.

Kapal selam berjenis U-168 tersebut tenggelam pada pukul 01.30 tanggal 06 Oktober 1944 di perairan Jawa. Dari 50 orang di dalam kapal, 23 di antaranya tewas. Sisanya ditawan di Surabaya dan Australia.

Saat itu, Jerman dalam posisi sebagai sekutu Jepang yang saat itu hendak menguasai wilayah Indonesia.

Kini, kapal tersebut ditemukan oleh para peneliti arkeologi nasional. Mereka mendapat informasi dari para nelayan.

Ada sejumlah barang yang masih berada di dalam kapal, seperti aki kapal selam, bagian kanon, tengkorak tentara, lubang torpedo, pipa udara dan piring besar. Gambar-gambar itu diambil para peneliti dari kedalaman sekitar 18 meter.

Kapal itu menjadi bukti keberadaan tentara Hitler di perairan Indonesia.

Peneliti dari Arkeologi Nasional, Shinatria Adhityatama yang ikut dalam tim yang menemukan bangkai kapal selam itu menyebutkan, informasi yang diperolehnya kapal itu merupakan salah satu kapal yang rusak karena ditorpedo kapal Belanda.

"Informasinya kapal itu membantu Jepang berperang melawan sekutu di Asia. Karena di wilayah Asia ini salah satu suplai material untuk sekutu," terang Shinatria saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (20/11/2013).

Kapal selam Jerman ini memiliki 3 pangkalan yakni di Penang, Malaysia, di Jakarta dan Surabaya. "Kapal ini dibuat tahun 1942, dan kena ditorpedo tahun 1944," imbuhnya.

Kapal selam yang ditemukan ini tersisa sekitar 47 meter. Bagian buritan belakang sudah hilang. Di dalam kapal ditemukan belasan tengkorak, ada juga sisa peralatan makan dan lain-lain. Ada lambang Nazi di dalam kapal itu.

Penemuan kapal itu mungkin sedikit membuka misteri tentang keberadaan makam tentara Jerman di Mega Mendung, Bogor. Pemakaman seluas 300 meter persegi ini ada di dalam wilayah perkebunan PTP Nusantara VIII di Cikopo, Desa Sukaresmi. Hanya sekitar 70 km ke selatan Jakarta.

Pemakaman yang berisi 10 jenazah tentara Jerman ini adalah saksi bisu kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia dalam Perang Dunia II. Namun, warga setempat pun tidak menyadarinya. Mereka justru menduga itu makam orang Belanda. Padahal di dekat pintu masuk pemakaman, ada prasasti dari Kedubes Republik Federal Jerman di Jakarta. 'Deutscher Soldatenfriedhof' atau Taman Makam Tentara Jerman.

Menilik dari sejarah keberadaan makam itu, saat Perang Dunia II meletus pada 1939, Adolf Hitler yang disokong oleh Partai Nazi mendeklarasikan perang. Belanda ikut diinvasi Jerman. Hal itu pun berbalas di Hindia Belanda. Tentara Belanda menangkapi warga Jerman di Hindia Belanda, termasuk para pengurus perkebunan teh. Lokasi itu dahulu merupakan kebun teh milik orang Jerman. Sang pemilik membawa tukang serta sejumlah warga untuk bekerja di tempatnya.

Namun kemudian, Jepang yang merupakan sekutu Jerman, menaklukkan Belanda pada 1943. Tentara Jerman pun masuk lagi ke Jawa bersama Jepang, namun masuknya tentara Adolf Hitler ini tidak tercatat dalam sejarah. Mereka adalah Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) dari armada kapal selam (U-Boot) U-195 dan U-196. Mereka mengambil alih lagi kebun teh di Sukaresmi.

Seperti dicatat sejarah, Jerman dan Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Para tentara Jerman ini pun gugur satu persatu, dan 10 di antaranya dimakamkan di Megamendung. Mungkinkah ada diantara yang tewas itu salah satu awak U-Boat yang ditemukan di Karimun Jawa?

Kapal selam Jerman atau U-Boat yang karam di perairan Karimunjawa dikomandani oleh Helmuth Pich. Dia sempat menjadi tawanan di Indonesia sebelum akhirnya dibebaskan pada tahun 1947.

Di situs Uboat.net, dipaparkan soal biografi Helmut Pich. Situs itu merangkum dari sejumlah literatur ahli yang mengisahkan tentang U-Boat dan para tentaranya.

Helmut Pich bergabung dengan pasukan Angkatan Laut Jerman pada tahun 1934. Mulai dari tahun 1939 hingga 1941 dia sempat bertugas di pasukan Angkatan Udara.

Baru pada tahun 1941 hingga 1942, dia mendapat pelatihan U-Boat. Tugas pertamanya adalah patroli selama 69 hari dan kapal selam itu. Mereka berhasil menenggelamkan 9 kapal dengan bobot lebih dari 42 ribu ton.

Pada 3 Juli 1943, Pich kemudian melakukan patroli panjang ke Laut Hindia. Dia tiba di Penang 132 hari kemudian dan berhasil menghancurkan kapal Inggris.

Dari Penang, dia kemudian bertempur di perairan Jakarta dan menenggelamkan dua kapal Belanda dan merusak kapal Norwegia.

Nah, saat berlayar dari Jakarta pada 6 Oktober 1944, dia disergap oleh kapal selam Belanda HrMs Zwaardvisch di perairan Jawa. Saat itu 23 prajurit tewas dan 27 lainnya ditangkap, termasuk Pich.

Pich akhirnya dibebaskan pada tahun 1947 dan meninggal dunia 18 Maret 1997.


Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar